K.H. ABDUL GHOFUR: PROFIL DAN AJARANNYA

Kyai Haji Abdul Ghofur. Beliau adalah pembangun kembali Pondok Pesantren Sunan Drajat. Lembaga tempat Sunan Drajat mengajarkan ilmu agamanya ini sempat menghilang atau “tidur” selama berabad-abad sampai akhirnya dibangun kembali pada tahun 1977 dan sampai menjadi salah satu Pondok Pesantren terbesar di Indonesia. Ulama’ yang lahir di kampung yang sama dengan berdirinya Ponpes ini yaitu di Dusun Banjaranyar, Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur pada 12 Februari 1949 [1] ini merupakan generasi ke-14 dari Waliyullah Sunan Drajat [2]. Menghabiskan waktu belajarnya di Pondok Pesantren Denanyar – Jombang, Pondok Pesantren Kramat dan Sidogiri di Pasuruan, Kemudian melanjutkan mondoknya di Ponpes Sarang, Rembang dalam asuhan K.H. Zubair, lanjut ke Pondok Pesantren Lirboyo, Pesantren Tretek, Pesantren Roudhotul Qur’an Kediri. Sempat menimba ilmu juga di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo [3]. Beliau juga beberapa kali mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari universitas dalam dan luar negeri seperti Doktor HC di bidang Ekonomi Kerakyatan dari American Institute of Management Hawaii, Amerika [4]. Beliau juga mendapat gelar professor karena berhasil meneliti “Khasiat Buah Mengkudu dan Pelestarian Tanaman” [5]. Selain sebagai seorang ulama’, pendidik, ilmuwan, dan pesilat beliau juga merupakan sosok pengusaha yang sukses. Karena minimnya anggaran bagi pesantren dari pemerintah, Ponpes Sunan Drajat mandiri membiayai biaya hidup sehari-hari ribuan santrinya secara gratis dengan menjalankan berbagai perusahaan di bawah payung Ponpes Sunan Drajat seperti usaha-usaha di bidang: Penambangan kapur, Jus “Mengkudu Sunan”, Perkebunan mengkudu, Industri pupuk, Pembuatan air Minum mineral “Aidrat”, Perternakan Sapi, pembudidayaan Ikan Lele, Usaha Pengrajin Kayu, Pembuatan Madu Asma “Tawon Bunga”, Pembuatan Minyak Kayu Putih, garam “Samudera”, Usaha bordir dan konveksi kain, radio Persada FM 97.2 MHz, Persada TV dan masih banyak usaha-usaha lainnya [6]. Kini Pondok Pesantren Sunan Drajat telah memiliki berbagai pendidikan baik formal maupun nonformal, dalam berbagai jenis dan jenjang, seperti: TK Muslimat, MI, MTs, SLTPN 2 Paciran, MA, Madrasah Mu’allimin Mu’allimat, SMK NU 1, SMK NU 2, Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM), Madrasah Diniyah, dan Madrasatul Qur’an serta Pendidikan Tinggi degan nama Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD). Dengan jumlah peserta didik kurang lebih 6000 (enam ribu) orang [7].
Hampir setiap hari beliau kedatangan banyak tamu dari berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri (umumnya Malaysia dan India). Beliau menerima tamu tersebut sebagai tempat keluh kesah berbagai permasalahan hidup. Kemudian beliau akan memberikan nasehat serta solusinya.
Mungkin berbagai prestasi dan kelebihan beliau tidaklah penting bagi beliau sendiri mengingat pribadinya yang low profile. Akan tetapi yang lebih utama adalah ajaran-ajaran beliau yang menyentuh hati dan sangat disarankan untuk didengarkan dan diaplikasikan. Berikut beberapa ajaran beliau yang selalu ditekankan dan sering diulang-ulang dalam setiap ceramah dan pengajiannya.

1. Dosa itu Ada 2 Jenis yang Berbeda.

Menurut beliau, dosa-dosa dapat digolongkan menjadi 2 macam: dosa terhadap Tuhan (dari sisi HablumminAllah) dan dosa terhadap sesama manusia (dari sisi Hablumminannaas). Dosa terhadap Tuhan yang dimaksud adalah pelanggaran di bidang ‘ubudiyah (perkara ibadah) dan pelanggaran larangan seperti tidak sholat 5 waktu, tidak berpuasa wajib, tidak berzakat, berzina, minum minuman keras, narkoba dll. Sedangkan dosa terhadap sesama manusia seperti menggunjing, menipu, mencuri, menghina, memfitnah, dst. Untuk menghapus dosa terhadap Tuhan kita diminta untuk beristighfar taubat mohon ampun kepada Allah SWT. Sedangkan untuk dosa terhadap sesama manusia tidak akan terhapus dengan memohon ampun kepada Allah, tetapi akan terhapus apabila kita telah meminta maaf kepada yang telah kita celakai. Itupun tidak bisa hanya sekedar meminta maaf secara umum tanpa bertanggung jawab. Bertanggung jawab dalam artian seperti mengembalikan/mengganti barang yang dicuri/ditipu, menyebutkan apa-apa saja yang telah dibicarakan dalam pergunjingan dst. Menurut penelitian beliau (penelitian: pengkajian Al Qur’an, As-Sunnah, dan berbagai kitab-kitab para ulama’ terdahulu) kebanyakan muslim yang masuk neraka nanti adalah diakibatkan dosa terhadap sesama manusia. Bagaimana dengan dosa terhadap Allah? Dengan rahmat dan kasih sayang Allah SWT, asal kita mau membuka mulut untuk mengucap istighfar untuk bertaubat dan melakukan amalan-amalan penghapus dosa (akan disinggung di poin 9 di akhir artikel ini), insyaAllah akan diampuni oleh-Nya. Dosa-dosa terhadap sesama manusia di akhirat nanti akan dibuka dan diselesaikan satu persatu dan melibatkan seluruh orang-orang yang pernah dicelakai/merasa terugikan. Yang dicelakai akan mendapat ganti rugi pahala dari orang yang mencelakai. Dan jika pahala habis, maka orang yang dicelakai dapat memberikan hukuman siksa-siksa atas dosa-dosa yang pernah dia lakukan kepada orang yang mencelakai. Atau dalam kata lain siksa akibat dosa orang yang dicelakai ditanggung oleh orang yang mencelakai.
Agar masuk surga, manusia harus bersih dari kedua golongan besar dosa tersebut. Beliau menganjurkan membaca istighfar untuk kedua macam dosa tersebut setelah sholat 5 waktu. Istighfar-istighfar tersebut adalah:

• Istighfar untuk dosa terhadap Allah SWT

أَسْتَغْفِرُ اللهَ َالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Dibaca:
“Astaghfirullah Alladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuwm wa atuwbu ilayhi.”

Artinya:
“Aku memohon ampun kepada Allâh Yang tidak ada Tuhan (Yang berhak disembah) selain Dia Yang Maha Hidup Lagi Maha berdiri sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya”

• Istighfar untuk dosa sesama manusia

أَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِى وَلِوَالِدَيَّ وَلِأَصْحَابِ اْلحُقُوْقِ الْوَاجِبَاتِ عَلَيَّ وَلِجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ

Dibaca:
“Astaghfirullahal ‘adhiym liy waliwa lidayya wa li ash-haabil huquwqil waa jibaati ‘alayya wa lijamiy’il Mu’miniyna wal Mu’minaati wal Muslimiyna wal Muslimaati Al Ahyaa I minhum wal Amwaat.”

Artinya:
“aku mohon ampun ya Alloh dzat yang Maha Agung, juga ampuni kedua orang tuaku dan orang-orang yang punya kewajiban pada aku, dan semua mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat yang hidup maupun yang sudah meninggal.”

Lho katanya tadi dosa terhadap sesama tidak akan terhapus dengan istighfar kepada Allah?? Begini, dalam istighfar yang kedua di atas, disebutkan kita memintakan ampun untuk para Mukmin dan Muslim baik laki-laki maupun perempuan baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal (maksudnya tertuju bagi orang-orang yang telah kita celakai) sebagai tebusan atas dosa yang telah kita lakukan kepada mereka.

Semoga kita terhindar dari berbagai bentuk dosa dan kita mampu untuk sebanyak-banyaknya beristighfar dan  bertaubat.

2. Paham Bahwa Islam Adalah Teroris Merupakan Fitnah dan Konspirasi Besar

Sudah lama dan sering kita dengar akan fitnah ini. Menurut beliau ini hanyalah fitnah dan konspirasi salah satu Negara besar (no mention, IYKWIM) yang tidak ingin Islam berkembang dan maju. Mereka menyerang mulai dari mengatakan bahwa Pondok Pesantren adalah sarang teroris. Karena Pondok Pesantren adalah awal dan pusat dari berkembangnya Islam. Namun fitnah mereka malah menjadi bumerang. Justru dengan fitnah tersebut setidaknya dunia mulai tahu dan penasaran tentang Islam. Angka orang masuk Islam naik di banyak negara. Dan sekarang justru Islam menjadi agama dengan angka pertumbuhan pengikut yang paling tinggi [8]. Dalam pandangan beliau, di masa mendatang, orang-orang akan masuk Islam justru dari perkembangan sains dan teknologi. Pembuktian-pembuktian sains dan teknologi yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan membuat orang percaya akan kebenaran Islam dan berbondong-bondong memeluk Islam. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center, pada tahun 2050 jumlah Muslim di dunia akan mendekati jumlah Nasrani (Kristen Protestan, Katolik, Anglikan, Orthodoks dan semuanya). Kemudian Islam akan menjadi agama dengan penganut terbanyak di bumi ini pada tahun 2070 [9].

3. Islamisasi Indonesia yang Unik

Dalam kacamata beliau, Islamnya Indonesia merupakan satu-satunya Islamisasi suatu wilayah/Negara di dunia yang damai tanpa perang atau gegeran apa-apa. Ini atas jasa para Wali Songo. Pendidikan dan pengajaran Islam ala Wali Songo sekarang diteruskan di berbagai Pondok Pesantren di Indonesia. Tentang isu yang berhembus sekarang yang meragukan akan adanya Wali Songo (mengatakan bahwa Wali Songo hanya tokoh fiktif saja) merupakan suatu bentuk pemutarbalikan fakta sejarah yang tidak ilmiah dan terbantahkan dengan berbagai bukti peninggalan yang ada. Semua ahli/ilmuwan Sejarah Islam di Indonesia mengakui keberadaan Wali Songo. Bukti yang paling nyata adalah Islamnya mayoritas penduduk Indonesia. Selain pemutarbalikan fakta sejarah, ini juga merupakan suatu bentuk sikap kufur nikmat, dimana tidak mensyukuri akan ke-Islam-annya sendiri.

Menurut beliau, Islamisasi Indonesia oleh para Wali Songo berpedoman pada falsafah Jawa “kenek iwake ga  buthek  banyune” (tertangkap ikannya tanpa membuat keruh airnya). Maksudnya Islamisasi oleh Wali Songo berhasil mencapai tujuannya yaitu Islamnya para penduduk Indonesia tanpa terjadi gegeran atau kekacauan seperti perang dan yang lainnya. Pedoman ini layaknya diteruskan sebagai pegangan dalam berdakwah dan menyelesaikan  berbagai permasalahan hidup di masyarakat.

4. Agomo iku Noto Apike Koyok Opo

Dalam kalimat beliau: “Agomo iku noto, apike koyok opo“. Memiliki arti “Agama itu mengatur bagusnya bagaimana”. Hukum yang mengenai beberapa kasus dapat berubah status hukumnya. Dengan tujuan mengatur bagusnya bagaimana. Seperti beberapa contoh kasus, misalnya: bank, amputasi, operasi caesar, dan foto.

Bank, hukum mulanya tentu haram karena mengandung unsur riba. Tetapi menurut beliau, kalau tidak ada Bank maka kehidupan dunia tidak dapat berjalan. Bisakah Anda membayangkan jika di dunia ini tidak ada bank? Segala sesuatu akan menjadi ribet dan tatanan dunia akan kacau. Sehingga hukum adanya Bank menjadi diperbolehkan.

Amputasi juga sebenernya haram pada dasarnya. Akan tetapi apabila tidak dilakukan maka akan lebih membahayakan, sehingga malah menjadi suatu keharusan untuk dilakukan.

Begitu pula dengan operasi caesar. Hukum awalnya adalah haram. Akan tetapi jika tidak dilaksanakan malah mengancam keselamatan sang bayi atau ibunya. Sehingga hukumnya berubah menjadi wajib untuk dilaksanakan.

Hukum adanya foto sebenarnya adalah haram. Sesuai dengan Hadits Nabi yang melarang menggambar atau menciptakan patung dari makhluk ciptaan Tuhan yang bernyawa. Namun adanya foto membuat kehidupan di dunia dapat berjalan dengan lancar, maka hukum berfoto, mencetak foto, dan menyimpannya menjadi halal.

Yang perlu diingat pepatah “Agomo noto, apike koyok opo” ini janganlah disalahgunakan untuk menghalalkan atau menyepelekan hukum perkara-perkara lainnya. Tentunya pepatah ini hanya berlaku untuk kasus-kasus tertentu. Kemudian, yang boleh menerapkannya adalah hanyalah Ulama’ lewat fatwa atau keputusan muktamar melalui kajian Al Qur’an, As-Sunnah (Hadits), Ijma’, dan Qiyas yang mendalam.

5. Pendidikan di Pesantren Merupakan Pendidikan yang Terbaik

Pengalaman beliau sebagai seorang yang setiap hari menjadi tempat keluh kesah berbagai permasalahan kehidupan, membuat beliau menarik kesimpulan bahwa pendidikan di pesantren merupakan yang terbaik. Selain tidak terpengaruh pergaulan bebas, seks bebas, dan narkoba, pesantren juga menjadikan seseorang selain mendapat ijazah resmi dari Negara juga menjadikan seseorang bisa mengaji (baik Al-Qur’an maupun Kitab Kuning), berceramah agama dan berkhutbah, memimpin doa, dan kemampuan-kemampuan keahlian keagamaan lainnya yang berguna saat terjun di masyarakat nanti. Pendidikan di pesantren yang serba terbatas dan massal seperti antri saat MCK, jauh dari orang tua, makan yang dibatasi, jam tidur yang singkat, dan padatnya kegiatan yang harus diikuti akan membentuk pribadi yang sabar, sederhana, rendah hati, peduli, ikhlas, rajin, disiplin, hemat, bersahaja, santun, dan beradab. Menurut penulis, fenomena ini bisa menjadi lahan penelitian di bidang Psikologi Pendidikan yang dapat melahirkan paper / karya ilmiah yang potensial dalam hal jumlah dan mutu. Hal ini dikarenakan banyaknya variabel sifat terpuji yang disebut di atas dan banyaknya jumlah pondok pesantren di Indonesia.

Beliau juga menyayangkan minimnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan pesantren seperti minimnya dana yang dikucurkan. Dan yang juga menjadi keprihatinan beliau adalah pesantren yang dijadikan pilihan kedua bahkan terakhir oleh banyak para orang tua dalam memilih pendidikan bagi anaknya.

Beliau mengajak para pendengar ceramahnya untuk membuat “negara pondok“. Dimana semua pendidikan di negara ini berbasis pondok. Serta semua pemimpin dan pejabatnya lulusan pondok. Karena menurut beliau, dengan memiliki pemimpin lulusan pondok pesantren maka insyaAllah negara kita akan menjadi negara yang sejahtera, agamis, dan bebas korupsi.

6. Dosa Korupsi Adalah Dosa yang Rumit dan Berbahaya

Dalam ceramah dan pengajiannya, beliau seringkali membahas tentang dosa korupsi. Dosa korupsi ini tergolong dalam dosa terhadap sesama manusia. Dan pihak yang tercelakai (yang menjadi korban dosa) disini adalah seluruh rakyat Indonesia. Menurut beliau, pelaku tidak akan masuk surga sampai para koruptor tersebut menebusnya dengan menyelesaikannya satu-persatu dengan seluruh rakyat Indonesia. Tentunya dengan aturan yang dibahas di poin 1 di atas (transfer dosa dan pahala). Beliau menasehati kita agar mawas diri dan lebih ekstrimnya menjauhi profesi-profesi yang potensial terjadi korupsi yang sudah membudaya. Beliau juga mengingatkan agar jangan bercita-cita menjadi pemimpin jika hanya untuk menjadikannya sebagai mata pencaharian (mencari uang / kekayaan) atau sebagai ajang meraih kekuasaan / ketenaran, bukan dengan niatan “siap melarat demi kepentingan umat“. Karena hal ini berpotensi menjadikan seseorang bukan menjadi pemimpin yang baik malah menjadikannya koruptor.

7. Hidup Cuma Sekali

Hidup cuma sekali, dan sekali ini harus sukses”. Begitulah kata-kata beliau yang sering diucapkan dalam ceramah dan pengajiannya. Sukses dalam artian menjalankan segala perintahnya dan menjauhi larangan-Nya. Makna sukses yang lebih dalam lagi adalah sukses duniawi (mampu dalam finansial). Dengan mampu secara finansial, istilah beliau kita dapat “membeli surga”. Membeli surga maksudnya menggunakan harta kita untuk bersedekah, membangun masjid, beramal jariyah, berinfaq, membangun TPQ, Pondok Pesantren dst. Untuk meraihnya, semuanya dimulai dengan pendidikan atau dengan kata lain “sekolah dan ngaji yang bener”. Karena dalam pandangan beliau ciri individu yang sukses akhiratnya adalah juga sukses dunianya. Namun bukan berarti, orang yang tidak mampu secara finansial akan tidak sukses kehidupan akhiratnya nanti. Karena sukses yang disebut di atas juga mengandung sisi yang utama yaitu menjalankan kewajiban dan berbagai amalan agar mendapat banyak pahala serta menjauhi segala larangannya.

8. Kewajiban untuk Terus-menerus Belajar Ilmu Agama

Ini tidak sekedar istilah yang mainstream. Maksud disini adalah saat perhitungan hisab di akhirat nanti Allah tidak akan menoleransi ucapan manusia yang berucap membela diri:

saya tidak tahu kalau itu ga boleh.” atau

“saya tidak tahu kalau itu wajib dilakukan” atau,

“saya tidak tahu kalau aturannya seperti itu” atau

saya tidak tahu kalau amalan seperti itu akan menghasilkan pahala yang sebesar itu.”.

dan lain-lain.

Kasarannya, Allah akan membalasnya dengan berkata: “salah sendiri tidak ngaji! (ngaji = belajar agama)”. Belajar agama dapat dilakukan tidak hanya dengan mondok di pesantren tapi juga dapat dilakukan dengan mendengar pengajian di radio, tivi, Youtube, membaca buku, mendatangi majlis dan sebagainya. Tentunya pastikan terlebih dahulu Kyai / Ustadz yang jadi narasumber tersebut memiliki sanad keilmuan yang tidak putus sampai Rasulullah SAW. Tidak ada kata terlambat dan tidak ada ujung untuk belajar agama. Belajar agama tidak mengenal umur, tempat, dan media yang digunakan. Apalagi di zaman yang seperti ini media-media untuk belajar agama sangatlah banyak dan mudah diakses.

9. Suatu Kebodohan Apabila Kita Mati Masih Membawa Dosa

Ya, begitu ucap beliau. Karena menurut beliau berdasar pada hadits-hadits shahih, banyak sekali amalan yang dapat menghapus semua dosa kita dan amalan-amalan yang berpahala besar sekali. Amalan-amalan itu (banyak yang merupakan amalan ringan / mudah dilakukan) seperti berpuasa Ramadhan, menegakkan Lailatul Qadar, menunaikan Sholat Tarawih, berucap aamiin dalam sholat dan kebetulan bebarengan dengan ucapan aamin-nya Malaikat, membaguskan wudhu, memohon ampun di sepertiga malam (saat Sholat Tahajjud), menjawabi adzan dan berbagai amalan-amalan lainnya. Untuk hal ini (amalan-amalan ringan penghapus semua dosa), insyaAllah penulis akan membuat artikelnya secara khusus dan lebih lengkap di blog ini.

Demikian mengenai profil beliau dan hal-hal yang sering disebut berulang-ulang dan ditekankan dalam ceramah dan pengajiannya. Semoga dapat menjadi teladan, motivasi, renungan, dan sarana perbaikan diri. Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk membaca. Semoga Allah tetap dan seterusnya merahmati, melindungi, dan memberikan umur yang panjang bagi Abah Kyai Haji Abdul Ghofur agar terus bermanfaat bagi umat dan membimbing umat ke jalan-Nya. Al Faatihah.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Tanggal lahir K.H. Abdul Ghofur. http://mqppsunandrajat.blogspot.co.id/2011/06/mengenal-sosok-kh-abdul-ghofur-pengasuh.html
[2] Generasi ke-14 dari Sunan Drajat. https://www.youtube.com/watch?v=QB0zvObzV4g
[3] Daftar pondok pesantren tempat belajar. http://blog.santridrajat.com/2013/03/kiai-seribu-solusi.html
[4] Doktor Honoris Causa. http://blog.santridrajat.com/2013/03/kiai-seribu-solusi.html
[5] Gelar Profesor. http://mqppsunandrajat.blogspot.co.id/2011/06/mengenal-sosok-kh-abdul-ghofur-pengasuh.html
[6] Usaha PPSD. http://mqppsunandrajat.blogspot.co.id/2011/06/mengenal-sosok-kh-abdul-ghofur-pengasuh.html
[7] Unit Pendidikan Ponpes Sunan Drajat. http://embuntafakkur.blogspot.co.id/2012/09/profil-lengkap-kh-abdul-ghofur-pengasuh.html
[8] Agama dengan pertumbuhan terbesar. “Which religions are shrinking and which are growing?”. https://www.youtube.com/watch?v=ovPx3-TVhow

[9] The Future of World Religion (in 2050). https://www.youtube.com/watch?v=l3gpkP-Atpc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s