Inilah Alasan Mengapa Ladang Migas Kita “Dikuasai” Asing

To the point saja. Bisnis migas itu sangat beresiko tinggi. Antara ngebor yang berhasil (yang bisa dapet minyak dan/atau gas) ama yang gagal itu banyak gagalnya. Jadi secara statistik untuk mendapatkan satu sumur yang menghasilkan migas harus ngebor beberapa kali. Sedangkan sekali ngebor di darat (onshore) itu butuh dana biasanya sekitar 5 juta USD. Untuk di lepas pantai (offshore) itu biasanya sekitar 15 juta USD. Jadi jika umpama rasio mendapatkan sumur yang “berisi” migas 1:5. Maka biaya untuk mendapatkan 1 sumur potensial tersebut sebesar 25 juta USD untuk onshore atau 75 juta USD untuk offshore. Angka yang besar sekali kan?? Itu 1 sumur. Sekali lagi cuma 1 sumur. Satu lapangan bisa ada puluhan hingga ratusan sumur. Belum lagi ada berapa lapangan di Indonesia?? Resikonya gede kan, sekali ngebor sekian juta dollar sedangkan belum pasti dapetnya. Oleh karena itu pemerintah Indonesia mengelolanya dengan sistem PSC. Production Sharing Contract. Pemerintah bekerjasama dengan kontraktor (perusahaan minyak). Kemudian untuk pembagian keuntungannya, untuk minyak 85% untuk pemerintah dan 15% untuk kontraktor. Untuk gas 70% untuk pemerintah dan 30% untuk kontraktor. Lha terus gimana dengan biaya ngebor tadi yang gagal yang jutaan dollar itu?? Dengan PSC uang yang udah dikeluarkan buat ngebor yang gagal tadi yang jutaan dollar itu tidak ditanggung pemerintah. Kontraktor yang tanggung jawab. Kontaktor harus merogoh dari koceknya sendiri. Kemudian pengeboran yang berhasil (yang menghasilkan minyak dan/atau gas) baru diganti pemerintah plus pemerintah mengganti biaya produksi (biaya menambang migasnya). Setelah dipotong biaya-biaya itu kira-kira pemerintah bakal dapet 60%, yang asalnya dari 85 ato 70% turun jadi 60%. Belum lagi potong pajak yang masuk kas pemerintah. Pemerintah akan mendapatkan 35% dari 15% atau 30% bagi hasil keuntungan tadi. Udah untung kan pemerintah udah ga ngeluarin modal malah mendapatkan 60% dan tidak menanggung resiko yang besar serta dapet pajak. Pemerintah kita belum berani dan ga ada duitnya buat menanggung sendiri biaya pemboran yang gagal-gagal tadi. Apabila pemerintah memaksakan untuk mengambil alih sendiri maka yang akan terjadi pos-pos dana APBN untuk sektor yang vital seperti pendidikan, kesehatan dll akan berkurang banyak atau bahkan mungkin tidak dapat pasokan sama sekali. Kemudian mengapa perusahaan asing lebih mendominasi, jawabannya adalah karena perusahaan asing lebih memiliki modal yang besar dan berani menanggung resiko yang lebih besar pula. Jadi ini udah jalan tengah yang terbaik. Untuk lebih mudahnya dapat dipahami dari video 3 menitan berikut:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s